Minggu, 28 Juli 2013

APA YANG KITA BAWA MATI ?

Bismillah,
Ibadah-ibadah dan ketaatan-ketaatan yang
bermanfaat bagi orang yang telah mati, yang
berasal dari usaha mereka sendiri:

1. Shadaqah jariyyah (Sedekah mengalir yang
pahalanya sampai kepadanya).

2. Ilmu yang bermanfaat.

3. Anak shalih yang mendoakannya.

Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi
Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻹِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ
ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah
segala amalannya, kecuali dari tiga perkara:
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak
shaleh yang mendoakannya". [HR. Muslim, Abu
Dawud dan Nasa’i]

Dan pada riwayat Ibnu Majah dari Abu Qatadah
Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺎ ﻳُﺨَﻠِّﻒُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ ﺛَﻼَﺙٌ : ﻭَﻟَﺪٌ ﺻَﺎﻟِﺢٌ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ ﻭَﺻَﺪَﻗَﺔٌ
ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻳَﺒْﻠُﻐُﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻭَﻋِﻠْﻢٌ ﻳُﻌْﻤَﻞُ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ

"Sebaik-baik apa yang ditinggalkan oleh seseorang
setelah kematiannya adalah tiga perkara: anak
shalih yang mendo’akannya, shadaqah mengalir
yang pahalanya sampai kepadanya, dan ilmu yang
diamalkan orang setelah (kematian) nya".
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu

Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu
'anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda.

ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻠْﺤَﻖُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻪِ ﻭَﺣَﺴَﻨَﺎﺗِﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻪِ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻋَﻠَّﻤَﻪُ ﻭَﻧَﺸَﺮَﻩُ
ﻭَﻭَﻟَﺪًﺍ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﺗَﺮَﻛَﻪُ ﻭَﻣُﺼْﺤَﻔًﺎ ﻭَﺭَّﺛَﻪُ ﺃَﻭْ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﺑَﻨَﺎﻩُ ﺃَﻭْ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻻِﺑْﻦِ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ
ﺑَﻨَﺎﻩُ ﺃَﻭْ ﻧَﻬْﺮًﺍ ﺃَﺟْﺮَﺍﻩُ ﺃَﻭْ ﺻَﺪَﻗَﺔً ﺃَﺧْﺮَﺟَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﺻِﺤَّﺘِﻪِ ﻭَﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ
ﻳَﻠْﺤَﻘُﻪُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﻮْﺗِﻪِ

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan
seorang mukmin yang akan menemuinya setelah
kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan
disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya,
mush-haf yang diwariskannya, masjid yang
dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang
dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk
umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari
hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya,
semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal
dunia".

1. Shadaqah Jariyyah

Perngertian shadaqah jariyyah menurut Madzhab
Empat ialah: Suatu pemberian untuk mencari
pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ada pula yang mengatakan: Memberikan shadaqah
yang tidak wajib, dengan cara menguasakan
barang dengan tanpa ganti (gratis).
Ada pula yang mengatakan: Harta yang diberikan
dengan mengharap pahala dari Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Ada pula yang mengatakan: Harta “wakaf”,
sedangkan pengertian wakaf itu sendiri yaitu: Apa-
apa yang ditahan di jalan Allah Subhanahu wa
Ta'ala .
Dari pengertian-pengertian di atas jelas bahwa
shadaqah jariyyah adalah suatu ketaatan yang
dilakukan oleh seseorang untuk mencari wajah
Allah, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, agar orang-orang umum
bisa memanfaatkannya sepanjang waktu tertentu,
sehingga pahalanya mengalir baginya sepanjang
barang yang dishadaqahkan itu masih ada.
Di antara contoh shadaqah jariyyah yang telah
dilakukan di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam ialah : Kebun kurma yang dishadaqahkan
oleh Abu Thalhah (seorang sahabat Nabi) ketika
turun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ﻟَﻦ ﺗّﻨَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻨﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ

"Dan tidaklah kamu bisa mendapatkan kebaikan
sehingga kamu menginfakkan (shadaqahkan)
sebagian apa-apa yang kamu sukai". [Ali-Imran:
92]

Kebun yang dishadaqahkan oleh Bani An-Najjar
kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
rangka untuk pembangunan masjid di waktu Nabi
datang di kota Madinah.

Sumur “ruumah” yang dibeli oleh sahabat Utsman
Radhiyallahu 'anhu dan beliau shadaqahkan pada
waktu kaum muslimin kekurangan air.
Tanah/kebun yang dishadaqahkan oleh sahabat
Umar Radhiyallahu 'anhu, yang merupakan harta
yang berharga baginya (yang dinamakan tsamgh),
beliau menshadaqahkan tanah tersebut, dengan
syarat tidak boleh dijual, diberikan atau diwariskan,
akan tetapi buahnya (kebun/tanah itu),
dishadaqahkan untuk budak, orang-orang miskin,
tamu, ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal)
serta karib kerabat Rasulullah.

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan
shadaqah jariyyah, adalah hadits riwayat Imam
Bukhari dan Imam Muslim dari Utsman bin ‘Affan
Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya aku
telah mendangar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺑَﻨَﻰ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐِﻲ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪَ ﺍﻟﻪِّ ﺑَﻨَﻰ ﺍﻟﻬُﺐ ﻟَﻪُ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

“Barangsiapa yang membangun masjid untuk
mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya
Allah Subhanahu wa Ta'ala membangunkan
untuknya sebuah rumah di dalam surga".

Di dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin
Malik: (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda):

ﻣَﻦْ ﺑَﻨَﻰ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﺻَﻐِﻴﺮًﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻭْ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ﺑَﻨَﻰ ﺍﻟﻬُﻞ ﻟَﻪُ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

"Barangsiapa yang membangun masjid, kecil
maupun besar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala
membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam
surga".
Pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Jabir (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda):

ﻣَﻦْ ﺑَﻨَﻰ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﻤَﻔْﺤَﺺِ ﻗَﻄَﺎﺓٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺻْﻐَﺮَ , ﺑَﻨَﻰ ﺍﻟﻪُْ ﻟَﻪُ ﺑَﻴْﺘًﺎ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

"Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala walaupun sebesar sarang
burung atau lebih kecil darinya, niscaya Allah akan
membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam
surga".

2. Ilmu Bermanfaat

Sesungguhnya di antara yang bisa memberikan
manfaat bagi maytit setelah kematiannya adalah
ilmu yang ia tinggalkan, untuk diamalkan atau
dimanfaatkan. Sama saja, apakah dia mengajarkan
ilmu tersebut kepada seseorang atau dia tinggalkan
berupa buku yang orang-orang mempelajarinya
setelah kematiannya. Hal ini berdasarkan sabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu
Hurairah:

ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻠْﺤَﻖُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻪِ ﻭَﺣَﺴَﻨَﺎﺗِﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻪِ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻋَﻠَّﻤَﻪُ ﻭَﻧَﺸَﺮَﻩُ

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan
seorang mukmin yang akan menyusulnya setelah
kematiannya adalah ilmu yang dia ajarkan dan
sebarkan".

Ibnu Majah meriwayatkan dari Muadz bin Anas dari
ayahnya, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

ﻣَﻦْ ﻋَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻪِ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃَﺟْﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻞِ

"Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia
mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya,
tidak mengurangi dari pahala orang yang
mengamalkannya sedikitpun".

Al-Bazzar meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu
'anha dia berkata : Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

ﻣُﻌَﻠِّﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﻟَﻪُ ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟْﺤِﻴْﺘَﺎﻥُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ

"Orang yang mengajarkan kebajikan dimintakan
ampunan oleh segala sesuatu, sampai ikan-ikan
yang ada di dalam lautan".

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ
ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍْﻹِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ
ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

"Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk
(kebajikan), maka dia mendapatkan pahala
sebagaimana pahala-pahala orang yang
mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-
pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa
menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan
dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya,
hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka
sedikitpun".

3. Anak Shaleh Yang Mendoakan Orang Tuanya.

Anak itu termasuk usaha orang-tua, sehingga
amalan-amalan sholeh yang diamalkan si anak,
juga akan menjadikan orang-tua mendapatkan
pahala amalan tersebut, tanpa mengurangi pahala
anak tersebut sedikitpun.

Imam Turmudzi, Imam Nasai dan Ibnu Majah
meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda :

ِﻥَّ ﺃَﻃْﻴَﺐَ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻛَﺴْﺒِﻜُﻢْ ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﻭْﻻَﺩَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻛَﺴْﺒِﻜُﻢْ

"Sesungguhnya sebaik-baik yang kamu makan
adalah yang (kamu dapatkan) dari usaha kamu,
dan sesungguhnya anak-anakmu itu termasuk
usaha kamu".

Hadits (di atas) mengkhususkan anak shaleh dan
sudah ma’lum kedekatan anak shaleh dari pada
yang lainnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
oleh karena itulah Nabi menyebutnya pada hadits
itu. Di mana anak shaleh itu selalu berdzikir dan
selalu menjaga hubungan baik kepada kepada
Allah. Dan ia pun tidak lupa memanjatkan do’a
untuk kedua orang tuanya setelah mereka tiada.
Selain itu bahwa anak shaleh yang membiasakan
diri di dalam mengerjakan amalan-amalan shaleh
sewaktu kedua orang tuanya hidup, yang dia
mempelajari amalan-amalan shaleh itu dari
keduanya, maka kedua orang tuanya mendapatkan
pahala dari amalan-amalan anaknya, tanpa
mengurangi pahala si anak tersebut.

Seorang bapak membutuhkan waktu yang panjang
untuk membentuk anak yang shaleh. Dia
memulainya dengan memilih istri yang shalehah,
supaya menjadi ibu bagi anak shaleh tersebut.
Kemudian mendidiknya dengan pendidikan yang
baik dan benar sesuai dengan tuntunan syari’at.
Dengan ini dia menjadi anak yang shaleh, walaupun
kedua orang tuanya sudah wafat.
Perlu diketahui juga bahwa keshalihan oran-tua,
bisa menjadi sarana kebaikan anak, walaupun
mereka telah meninggal dunia. Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺑُﻮْﻫُﻤَﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ

"Dan dahulu kedua orang tuanya adalah orang
yang shaleh". [Al-Kahfi: 82]

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang ke lima, pernah
berkata:

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ ﺇﻻَّ ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻲ ﻋُﻘْﺒِﻪِ ﻭَﻋُﻘْﺐِ ﻋُﻘْﺒِﻪِ

"Tidaklah seorang mukmin meninggal dunia kecuali
Allah akan menjaga anaknya dan cucunya”.

Ibnul Munkadir berkata:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﻴَﺤْﻔَﻆُ ﺑِﺎﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻭَﻟَﺪَﻩُ ﻭَﻭَﻟَﺪَ ﻭَﻟَﺪِﻩِ

"Sesungguhnya Allah akan menjaga anak dan cucu
seorang yang shalih”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar